Ini Adalah blog yang menyalurkan cerita yang kalian buat laludi publikasikan melalui blog ini
Jumat, 01 April 2016
The Mental House Part 7
Original Story by : Arya Sena
Retold by : David (Dengan beberapa perbaikan)
Source : CPI
Repost by : Rivai Nur Hidayat
“Halo kawan”. Orang itu memukulku dan menarik badanku ke sebuah kursi roda, “Hahaha, aku lihat kau sudah melewati banyak hal. Maka dari itu, izinkanlah aku mengajakmu jalan-jalan”.
Setelah itu, dia mengikat kedua tangan dan kakiku pada kursi roda tersebut.
Aku melihat di Nametag nya, dia adalah Dr. Richard Trager, seorang ilmuan jenius yang karyanya sempat menjadi fenomena global. Namun sayangnya, dia terkena sebuah tuduhan dan menghilang.
Tuduhannya karena sebuah percobaan illegal pada beberapa orang dan binatang.
“Hei kawan, kenapa wajahmu begitu pucat? Kau pasti lelah dan membutuhkan pengobatan. Ayo, kita menuju ruangan yang sudah kusiapkan untukmu”.
Dia mendorong kursi roda itu dan membawaku ke sebuah pintu.
“Kau mau keluar? Silahkan saja. Aku tidak sedang buru-buru, ayolah lari dengan bebas, laporkanlah semua orang tentang rumah sakit ini. Ayolah, bagaimana? Tidak? Oh baiklah”.
Aku diam saja, dan kemudian dia kembali mendorong.
“Pintu itu pasti pintu keluar”, pikirku dalam hati.
Kemudian dia membawaku ke sebuah lift menuju lantai atas. Pada saat dia membawaku dalam perjalanan, aku melihat beberapa pasien sedang diikat ke sebuah ranjang atau sekedar ditempatkan di pintu jeruji.
“Hei!! Keluarkan kami dari sini!!!”, Teriak salah seorang pasien. Ketika aku melewati salah seorang pasien, dia berbisik pada telingaku.
“Kau akan mati teman”.
Trager mendorong sebuah pintu dan membukanya, di dalam terlihat bahwa ini adalah ruang bedah lengkap dengan peralatan bedahnya.
“Oke, kita sudah sampai. Kita akan memulai pengobatanmu dalam beberapa saat. Aku hanya perlu menyuci tanganku sebentar”. Kemudian, dia melihat handycam yang kubawa, “Oh, hei. Sebuah handycam. Aku akan membuat film tentang ini”. Dia mengambil handycamku dan menaruhnya di wastafel didepanku.
“Hei, begini saja kawan, aku akan memberikanmu sebuah perawatan khusus. Bagaimana jika aku membelah perutmu dan mengambil organ bagian dalammu?”, Ucap Trager.
Kemudian dia mengambil sebuah parang besar dan menaruhnya di leherku.
“Kau tahu, saksi mata sepertimu pasti sudah mati sekarang. Paling tidak terbunuh oleh para pasien atau sekedar tersesat. Tapi kau cukup tangguh juga, jadi aku akan memberimu sebuah hadiah”. Kemudian, dia melepaskan parang itu.
“Kau tahu pendeta itu kan? Dia adalah orang yang sangat kucari, namanya Bapak Martin. Aku khawatir jika kau terlalu lama menghabiskan waktu dengannya. Dia akan mempengaruhimu...” .
Trager mengambil sebuah benda yang terlihat seperti gunting yang besar.
“Nah,kawan aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi”.
Kemudian dia menamparku. Dan seketika, dia memposisikan gunting besar itu pada jari tanganku. Dia memotong jari tengah dan kelingkingku.
"AAAAAARRGH!!", Aku berteriak kesakitan.
“Bagaimana kawan?”, kemudian dia menamparku lagi dengan sangat keras.
Dia kembali memposisikan guntingnya ke tangan di sebelahku, dan memotong dua jariku lagi. Dan sekali lagi, aku berteriak kesakitan, "AAAARGH!!".
Tiba-tiba, aku memuntahkan semua isi perutku ditambah dengan darah. Darahku mengucur ke lantai, dan menggenangi kecoa-kecoa yang ada dilantai. Sungguh sebuah tragedi.
“Baiklah kawan, nanti aku akan membersihkan muntah itu dari lantai. Sementara itu, aku akan menjual organmu ini, pasti laku mahal. Hahahaha!”.
Kemudian dia membawa peralatannya, dan pergi dari ruangan ini. Setelah yakin dia sudah pergi, aku segera memberontak dari kursi sialan ini. Dan beberapa lama kemudian, akhirnya terlepas juga ikatanku. Aku berjalan secara linglung, mencoba menggapai handycamku dengan jari telunjuk dan ibu jariku.
“Tunggu saja, aku pasti akan membalasmu, Trager..!”. Ucapku dalam hati.
Aku mencoba membuka pintu secara prelahan, dan melangkah keluar. Kulihat ada seseorang yang tidur dan terikat erat di sebuah ranjang.
Dia menoleh ke arahku dan mulai berbicara,
“Kau baru saja di operasi dengan dia kan?”.
“Trager, aku dulu sepertinya. Aku bukan seorang pasien, melainkan seorang dokter". Dia mulai bercerita, " Mereka melakukan sebuah eksperimen, eksperimen yang berjalan sangat-sangat buruk. Pada hari itu, semua berjalan begitu saja, tepat didepan mataku. Dan tidak akan ada seorangpun yang bisa mengendalikannya.. Tidak ada.. Tidak ada...”
Tiba-tiba, Trager masuk dari pintu depan. Dan tanpa pikir panjang, aku segera merangkak ke bawah tempat tidur pria tadi.
Dua kaki Trager sekarang berjarak hanya beberapa sentimeter dari wajahku.
”Ahh, halo Adam. Sepertinya kondisi organ dalammu semakin membaik. Kelihatannya aku akan membelah tubuhmu dan mengambil organ ginjalmu untuk diberikan pada sebuah pelanggan spesial”.
Kemudian dia teringat sesuatu, “Tunggu, ohh.. Aku lupa membawa peralatan khususku. Aku akan segera kembali”.
Beberapa lama kemudian, Trager meninggalkan ruangan ini. Aku segera beranjak keluar dan berjalan perlahan menuju pintu depan. Aku menoleh ke kiri dan ke kanan, situasi sepertinya sudah aman.
Aku segera berjalan menyusuri rumah sakit ini, dan melihat sebuah lift yang dipakai tadi untuk naik. Tapi sayangnya, lift ini butuh kunci. Pasti kunci itu ada di sekitar sini.
Aku menuju sebuah pintu yang terbuka sedikit. Aku melihat melalui lubang pintu itu, dan melihat Trager sedang berbicara pada 2 orang pria.
“Hei, jika kau butuh lift di ruangan sebelah sana, kau bisa mengambilnya di ruang kunci milikku. Ruang kunci itu terletak di ujung sebelah sana, bersebelahan dengan apotek, dan kunci itu bewarna emas dengan tulisan LIFT”.
“Baiklah Trager”, Kemudian mereka berdua langsung pergi pada urusan masing-masing. Aku melangkah perlahan, memastikan tidak menangkap perhatian siapapun.
Di ruangan sebelahku, Trager sedang mengoperasi pasien lain. Aku terus berjalan hingga bertemu dengan sebuah apotek, pasti ruangan kunci itu sudah dekat. Aku melihat samar-samar ada sebuah pintu berdebu.
Aku membukanya, dan melihat sebuah lemari dengan kunci-kunci berjejer rapi di dalamnya. Namun kunci yang mana untuk lift tadi?
Aku melihat dengan teliti kunci-kunci itu hingga melihat sebuah kunci emas bertuliskan LIFT.
Ini dia, aku segera melangkah keluar dari pintu itu. Dan tiba-tiba, Trager keluar dari pintu apotek di sebelahku. Dia melihatku.
“Hah? Bagaimana kau bisa lepas?”, dia segera mengeluarkan gunting besarnya dan mulai mengejarku.
Aku dengan cepat mengambil langkah seribu dan berlari tunggang-langgang, meninggalkan ruangan tadi, sementara Trager masih ada dibelakangku.
Aku menuju lift ruangan tadi dan menutup pintu. Di sebelahku, ada sebuah benda besar dan dengan sekuat tenaga aku mendorong benda itu hingga menutupi pintu ini dan memblokir jalan Trager.
“Hei! Tunggu saja hingga aku mendapatkanmu!!”, teriak Trager.
Aku segera menuju lift dan memasukan kunci tadi, dan akhirnya lift itu membawaku ke lantai bawah.
Setelah berhasil keluar dari lantai atas, tiba-tiba saat aku berjalan menuju pintu lain, Trager datang melalui pintu tangga di sebelahnya dan membuka pintu jerujinya.
Dia mengarahkan gunting besar itu menuju leherku, tapi aku dapat menangkap pergelangan tangannya dan mencegahnya mencapai leherku.
Aku mempertahankan posisiku cukup lama hingga Trager mulai lelah dan aku berhasil memutar balikkan gunting itu dan mengarahkannya tepat pada jantung Trager.
"AAAKH!!"
Nafas Trager hampir berhenti, dan darah besar mengucur keluar dari dadanya. Pada saat dia berada pada ujung lift, aku menendang badannya sekuat tenaga, hingga dia pun terjatuh menuju dasar lantai.
“WAAAAAA!”
Trager telah terjatuh, dan aku pun dapat keluar dari rumah sakit ini.
"Selamat tinggal, Trager".
-END-
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar