Jumat, 01 April 2016

The Mental House Part 4

Original Story by : Arya Sena Retold by : David (Dengan beberapa perbaikan) Source : CPI Repost by : Rivai Nur Hidayat Aku terbangun di tempat yang sepertinya adalah sebuah kamar, tapi bagaimana aku bisa berada disini? Hmm, aku berasumsi pasti pendeta itu yang membawaku kesini, dan disebelahku ada handycam-ku. Aku keluar dari kamar itu, dan melihat ke sekeliling. Aku baru sadar bahwa, ini adalah sebuah penjara. Tapi kenapa ada sebuah penjara di rumah sakit jiwa? Benar-benar rumah sakit yang aneh. Aku melihat seseorang, sepertinya pasien atau tahanan. Dia disekap di sel jeruji di depanku. Dia berteriak. "Hei! Menjauhlah dariku dasar bajingan!! Aku tidak mau disini! Menjauhlah dariku!!", setelah itu, dia meringkuk kembali ke selnya. Aku turun ke bawah penjara tersebut dan melihat berbagai macam pasien atau tahanan. Untuk apa mereka di sini? Dan kondisi mereka semua sangat memprihatinkan. Ada yang yang kulit kepalanya sudah dijahit dan dibelah, ada yang seluruh kulitnya diganti dengan kulit hewan dan ada yang hanya mengalami shock berat seperti habis melihat hantu. Aku berjalan keliling untuk mencari jalan keluar, dan aku lihat di salah satu sel tersebut. Ada sebuah celah kecil yang bisa kulewati. Setelah masuk, aku melihat ada sebuah kotak yang disusun dan ada sebuah pipa yang bisa kupanjat. Setelah memanjat, kulihat ruangan ini sangat gelap. Jadi kuangkat handycam-ku dan mengaktifkan opsi nightvision. "GLEK", aku terkejut. Di depanku, ada dua pasien lain. Sepertinya ini bagian lain dari penjara tadi. Aku berjalan lurus dan melihat sebuah tulisan di dinding bercat darah yang bertuliskan, "IKUTI". Aku mengikuti jejak darah tersebut hingga melewati sebuah pintu. Pintu ini menggunakan kunci mekanis yang harus dibuka melalui komputer. Komputer itu pasti ada di sekitar sini. Aku berjalan dengan cepat dan melihat sebuah pinggiran kecil. Aku bergeser dengan perlahan dan sampai di sisi lain, aku berjalan menuju jalan tersebut dan mendengar. "Diam Kau!!" Sepertinya telah terjadi perkelahian, aku menengok ke sebelahku, dan melihat dua orang napi sedang berkelahi. Salah satu dari mereka menang dan membunuh yang satunya. Aku berjalan perlahan tanpa terlihat dan berhasil melewati pasien itu. Aku berjalan dan berjalan terus, kemudian aku melihat ruang komputer untuk membuka kunci mekanisnya. Kutekan tombolnya, dan, "Klik", sepertinya pintu tadi sudah terbuka. Aku kembali ke jalan tadi dan membuka pintunya. Kulihat di sebelah kananku, ada tulisan ikuti jejak darahnya lagi, dan kuikuti saja jejak darah tersebut. Aku berjalan hingga mencapai sebuah jeruji. Jeruji ini terkunci. Kulirik di sebelahku, ada sebuah jendela. Aku langsung melompat dan berpeganggan dengan pijakan jendela tersebut. Aku bergeser terus ke kiri dan melompat masuk melewati jendela lainnya. Aku mengikuti jejak tersebut, dan melewati pintu di depanku. Aku mengikuti jejak darahnya hingga didepanku, ada seorang pasien membawa tongkat. Aku berbalik dan ada satu pasien lagi yang membawa tongkat pula. Aku terkepung. Kulihat di sebelah, ada jendela terbuka lagi. Aku lompat dan bergeser hingga ke ujung jendela lain. Aku berjalan mengikuti jejak tersebut hingga kulihat ada pintu tembus pandang atau kaca yang hanya bisa dibuka melalui komputer. Lagi-lagi aku harus mencari ruang komputer untuk membukanya. Setelah menemukan ruang komputer dan menekan tombolnya, aku melihat di depanku. Di balik kaca, pria gendut dan besar itu muncul lagi. Aku segera lari lewat pintu tadi dan berjalan lurus. Hingga ada semburan api di sebelahku, dan melemparku ke bawah. "AAAAAAAAAA...!!!" BRUK... Aku kembali ke penjara sebelumnya dan mendarat di tumpukan mayat pasien-pasien yang kulihat tadi. -BERSAMBUNG-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar