Ini Adalah blog yang menyalurkan cerita yang kalian buat laludi publikasikan melalui blog ini
Jumat, 01 April 2016
The Mental House Part 5
Original Story by : Arya Sena
Retold by : David (Dengan beberapa perbaikan)
Source : CPI
Repost by : Rivai Nur Hidayat
"Kenapa mereka semua sudah mati?", kulihat mayat mereka tertumpuk layaknya timbunan sampah, dan penjara ini tiba-tiba berubah menjadi agak gelap, hanya lampu tunggal yang ada di atasku sekarang yang menjadi penerangan untuk melihat mayat-mayat itu.
Kuangkat handycam nightvision milikku untuk melihat ke sekeliling. Bagian dalam penjara ini sangat gelap, tiba-tiba terdengar sebuah suara yang besar dan berat.
"Argggh", kulihat ternyata pria gendut dan besar itu turun dan memeriksa seluruh bagian penjara ini. Aku segera sembunyi di balik pintu dan mengintipnya. Aku akan menunggu jika dia sudah cukup jauh dan aku bisa naik ke atas.
Setelah beberapa lama, sepertinya dia sudah cukup jauh. Aku perlahan melangkah keluar dan menaiki tangga ke atas.
Setelah melihat ke belakang dan yakin dia tidak mengikutiku, aku segera lari. Melompati segala halangan di depanku, hingga akhirnya aku melihat sebuah pintu jeruji, namun terkunci.
Aku lihat ke bawah, ada sebuah lubang. Aku merunduk dan ada seseorang yang mengintipku lewat sebuah ranjang yang bersandar di pintu jeruji itu.
Sepertinya dia sedang ketakutan, jadi kutinggalkan saja. Aku terus berlari hingga menemui sebuah blok penjara lain. Aku masuk dan melihat ada seseorang berjalan ke arahku. Dia memakai sebuah jaket pengikat bak seorang pasien, dan seluruh bagian kepalanya (namun tidak termasuk hidungnya) diikat erat dengan sebuah lakban. Dia hanya diam mematung depanku dan menatapku dengan dingin, meskipun matanya tertutup lakban namun aku bisa merasakannya.
Aku segera menuju ke atas, kemudian aku melihat sebuah ranjang bertimbun dan aku pun memanjatnya ke atas.
Aku berjalan perlahan dan melihat ke sekeliling, semua pasien disini memberontak ingin dikeluarkan. Aku terus berjalan hingga salah satu pasien menyerangku dan ingin mencekikku.
"Ahhh!!", aku mencoba melepaskan cekikannya pada leherku, dan setelah lepas aku mendorong badannya pada pagar pembatas dan jatuh ke bawah.
BRUK..
Seketika itu juga, dia mati.
Aku berjalan terus dan melihat sebuah pinggiran kecil. Aku bergeser secara perlahan dan melompat pada lantai semen di depanku. Kemudian aku segera berdiri.
Aku berjalan lewat tangga dan menuju ke atasku. Dan aku melihat sebuah pinggiran kecil lagi, tetapi di belakangnya ada sebuah sel yang sepertinya kosong.
Aku segera bergeser, dan tiba-tiba ada sebuah tangan mengikat leherku. Aku berjuang melepaskan ikatan itu, tiba-tiba saja ikatan tersebut terlepas dan aku berbalik melihat sel tersebut. Seorang pasien mencoba memukulku, aku berhasil menghindari pukulan itu dan segera mencapai ujung.
Aku berlari secepat mungkin hingga mencapai dua jalan. Ada satu jalan dengan darah, dan satu lagi tidak ada. Yahh, mungkin aku harus mengikuti yang berisi jejak darah. Aku mengikuti jejak darah itu ke bawah dan melihat ada tulisan bernoda darah di dinding, yang bertuliskan, "Walrider".
"Walrider? Apa maksudnya?", renungku.
Aku mengikuti jejak darah tersebut dan berakhir di sebuah lubang, dan sepertinya tidak ada jalan lain. Aku segera melompat masuk dan..
"AAAAAAAAA...!!!"
Aku terjatuh, dan segera bangkit. Sepertinya ini adalah sebuah selokan. Aku tidak bisa kembali ke jalan tadi, jadi aku harus tetap berjalan.
-BERSAMBUNG-
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar