Ini Adalah blog yang menyalurkan cerita yang kalian buat laludi publikasikan melalui blog ini
Jumat, 01 April 2016
The Mental House Part 6
Original Story by : Arya Sena
Retold by : David (Dengan beberapa perbaikan)
Source : CPI
Repost by : Rivai Nur Hidayat
"Hueeek!", bau busuk yang dikeluarkan dari sela-sela selokan ini membuatku serasa ingin muntah, tetapi apa yang bisa kuperbuat, aku harus segera keluar dari tempat ini.
Aku terus berjalan menyusuri selokan ini, ada beberapa jalan yang buntu dan tidak bisa dilewati, hingga aku menemukan sebuah celah kecil di tembok dan melewatinya. Kulihat ada sebuah selokan kecil lagi, tapi kali ini air yang ada di dalamnya belum terkuras. Jadi aku harus menguras airnya lewat tombol utama. Tetapi, untuk melakukannya aku harus memutar dua tuas melewati dua jalan berbeda, setelah itu barulah memutar tombol utama.
Aku berjalan kedepan dan melihat tiga kotak yang disusun dengan rapi. Setelah beberapa langkah, tiba-tiba...
BRUK!
"Argghhhhhh!!", pria gemuk itu muncul lagi, dan dengan sigap aku segera menunduk. Aku mengintipnya lewat celah yang ada di kotak, dia berjalan melewati bagian yang di sebelah kanan, jadi otomatis di sebelah kiri aman.
Aku segera berlari menuju jalan di sebelah kiri, melompati palang pembatas. Kemudian aku mengikuti jalan hingga menuju sebuah pintu. Aku membuka pintu itu dan melihat tuas pertama, dan aku pun memutarnya
SSSSSHHHH...
Suara uap menandakan bahwa tekanan untuk menguras air di selokan tadi mulai bekerja.
Aku segera berlari menuju jalan kedua. Setelah melewati palang pembatas tadi, pria itu juga sudah melewati palang pembatas disana. Aku segera menunduk setelah melihat sebuah kotak besar, dan beberapa lama kemudian, dia sudah berjalan ke jalan yang kulewati tadi.
Setelah dia cukup jauh ke dalam, aku segera berlari melewati jalan kedua dan memutar tuas yang kedua, kemudian kembali ke jalan utama. Dan akhirnya, aku pun menekan tombol utama. Setelah air di selokan itu terkuras, aku turun ke bawah.
Aku turun di bagian bawah dari selokan tadi, dan di bawah sangat gelap. Aku mengangkat handycam milikku untuk bernavigasi di kegelapan. Aku terus berjalan dan menemui tangga lagi. Aku beralan ke atas dan muncul di sebuah jalan, lalu aku berjalan terus dan terus hingga melihat sebuah jalan buntu.
Aku melihat di sebelah kiriku, ada sebuah pintu. Aku membukanya dan sepertinya ada tangga lagi. Aku turun dari tangga itu dan melihat sebuah jalan dengan darah mengalir ke sebelah kanan.
Aku tidak tahu darimana darah itu berasal, kuikuti saja jalan darah ini. Setelah beberapa langkah...
BRUK!
Ada sebuah tubuh jatuh dari saluran atas. Aku terkejut, siapa yang membuangnya?
Aku terus berjalan, disaat aku berjalan aku melihat di sebelah kanan dan kiriku, terdapat sebuah daging yang berserakan dimana-mana.
Jalan di depanku sudah mentok, kulihat di bawah, ada sebuah lubang. Jadi aku menunduk dan merangkak melewati lubang tersebut dan mencapai sebuah bagian lain. Bagian ini sepertinya bagian saluran pembuangan yang besar, gelap dan dingin.
Aku berjalan melewati saluran ini, dengan air yang setinggi lututku membuatku susah berjalan. Aku melihat sekeliling dengan handycamku, dan kulihat sebuah tangga ke atas.
Setelah sampai dan memanjat ke atas, kulihat dari sini, bagian lain dari rumah sakit jiwa ini. Aku berjalan dan melihat sebuah pintu transparan, lalu aku melihat seseorang sedang terikat di sebuah kursi. Aku masuk ke dalam dan tiba-tiba orang itu berteriak.
"Lari!!! Mereka mengejarmu!!".
Kulihat di sebelahku, ada sebuah pintu besar seperti gerbang dan dua orang pasien sedang berusaha membuka pintu itu. Di depanku ada sebuah benda besar menghalangi pintu di sebelahnya. Dengan cepat aku mendorong benda besar itu.
Setelah selesai aku segera masuk ke dalam dan mendorong benda besar di sebelahku.
Kemudian, aku membuka sebuah pintu lagi dan berlari dengan cepat ke depan. Aku melihat mereka sudah mendobrak pintu di belakangku dan mengejarku. Aku berjalan lurus ke depan, dan dengan reflek aku mendobrak sebuah pintu di sebelah kananku dan menutupnya dengan cepat.
Ini adalah sebuah ruang bedah, aku lihat ada sebuah ruang ventilasi. Aku memanjatnya dan merangkak dengan cepat.
Aku keluar dan di belakangku, mereka sudah mendobrak pintu lainnya.
"Kau tidak bisa bersembunyi! Kematian akan mendatangimu!!"
Aku berlari dengan cepat, aku berbelok ke kiri. Aku sempat menegok ke belakang, dan aku melihat seorang pasien baru saja mendobrak pintu lagi dengan cepat.
Di depanku, ada sebuah pintu. Aku memegang gagangnya dan mencoba membukanya. Namun...
Terkunci, sial! Aku harus mencari jalan lain.
Kulihat ke atas, ada celah kecil di pintu. Aku melompat dan segera memasukinya, kemudian aku kembali berlari. Ada sebuah lubang besar, dan aku melompat lagi untuk memasuki lubang tersebut, kemudian aku kembali berdiri.
Adrenalinku telah memenuhi seluruh tubuhku, hingga aku melihat sebuah pintu di kananku.
BRAK!
Aku mendobraknya dan pintu itu terbuka.
Ada sebuah laundry lift (sejenis lift untuk mengantar cucian), dan aku menekan tombolnya. Setelah lift itu datang, aku mengangkat pintu bajanya dan segera masuk. Para pasien yang mengejarku sudah datang terlambat.
Fiuhh.. Mereka sudah tak terlihat lagi. Lift itu mengantarku ke atas.
Namun, tak lama kemudian, lift berhenti. Pintu baja lift terbuka.
"Halo, kawan"
Tiba-tiba, ada seorang pria yang berdiri di depan lift, dia kemudian memukulku dan menjatuhkanku ke lantai.
"Aku sudah menantikan kedatanganmu, kawanku.."
Aku mengenal pria tersebut,
"Trager!".
-BERSAMBUNG-
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar