Jumat, 01 April 2016

The Mental House Part 3

Original Story by : Arya Sena Retold by : David (Dengan beberapa perbaikan) Source : CPI Repost by : Rivai Nur Hidayat Aku terbangun di sebuah ruangan besar. Aku rasa ini ruangan resepsionis. Anehnya, di meja resepsionis terdapat dua penjaga yang sedang duduk dan kepala mereka tertunduk. Aku datang menghampiri mereka aku menepuk pundak salah satu penjaga. “Pak?”, aku melihat, ternyata mereka sudah meninggal. Lubang matanya kosong sepertinya telah dicongkel oleh seseorang dan darah segar mengalir keluar dari mata penjaga tersebut. Aku berjalan ke depan. Aku menengok di sebelah kiriku, dan aku melihat pintu utama. Itulah jalan keluarku dari sini. Aku tengok ke sebelah kananku, dan aku rasa disitulah Control Room untuk melepaskan kunci pintu utama. Aku berjalan menuju Control Room. Namun tiba-tiba, di depan kulihat seseorang mendobrak paksa sebuah pintu dan masuk. Aku memegang gagang pintu menuju Control Room dan, “Terkunci?” Hmm, sepertinya aku harus mengambil sebuah Keycard untuk membuka pintu ini. Aku kembali menuju ruangan resepsionis. Di meja resepsionis, aku melihat sebuah lembaran catatan. Aku pun membacanya. ...... "Dikarenakan sering terjadi pencurian, untuk para penjaga yang ingin mengambil Keycard untuk Control Room, bisa menemuiku di kantor” TTD. Kepala Penjaga ...... Dan aku melihat peta di catatan itu, sepertinya ini jalan menuju ruang kantor. Aku berjalan sesuai dengan yang ada di peta. Kulihat ada sebuah ruangan lain di sebelah meja resepsionis. Aku segera melangkah ke dalam. Ruangan ini sepertinya ruangan IT, kulihat komputer banyak sekali di ruangan ini. Mereka mungkin menyimpan data semua pasien disini. Aku melihat sebuah pintu di ujung ruangan tersebut, kemudian aku pun membuka pintunya dan kutengok ke kanan, ada seorang pria menduduki kursi roda. Aku mendekati pria itu. Setelah kulihat lebih dekat, kondisinya sangat memprihatinkan. Tubuhnya kurus kering dan kepalanya dibalut perban. “Hah?”, di ujungnya adalah jalan buntu. Kulihat ruangan di sebelahnya terhalang oleh lemari dan barang-barang lain yang berantakan. Pasti ada jalan lain, aku yakin itu. Di sebelah kananku terdapat sebuah kamar pasien. Disitu, kulihat ada tiga orang pasien yang kondisinya tidak kalah mengerikan dari pria tadi. Aku melihat di belakang kamar tersebut, ada jalan memutar menuju kantor. Segera saja aku menuju kesana, dan mendapati bahwa sepertinya kepala keamanan tersebut juga telah mati dan di kantong baju kanannya ada sesuatu, Keycard untuk membuka pintu Control Room. Aku mengambilnya dan meninggalkan ruang kantor. Aku kembali melihat tiga pasien tadi. Aneh pandangan mereka kosong, dan salah satu dari mereka melihat ke arah sebuah TV yang channel-nya kosong (bersemut). Aku segera menutup pintu dan meninggalkan mereka. Aku melihat pria yang ada di kursi roda tadi. Saat perlahan aku melangkah melewatinya, tiba-tiba saja dia menyerangku dan mencekik leherku. “Arghhhhhh!!” Pria tersebut menggeram, aku berjuang keras untuk melepaskan cekikannya. Dan... Akhirnya terlepas juga. Segera saja kuhempaskan badan pria itu ke dinding. Sekarang dia sepertinya hanya akan meringkuk kesakitan di sudut tembok. Aku akhirnya menemukan jalanku kembali ke Control Room, dan menempelkan Keycard-nya pada scanner di pintu tersebut NIIIT Akhirnya terbuka juga pintunya, aku segera duduk di kursi dan mencoba mengutak-ngatik Keyboard-nya untuk membuka kunci pintu utama. “MENGAKSES DATA KEAMANAN UNTUK MEMBUKA PINTU UTAMA” “MEMPROGRAM, 10%. 20%. 30%” Tiba-tiba, kulihat ke Security Monitor, dan kulihat pendeta itu lagi. Kini dia sedang berada di tempatnya yang menurutku adalah basement rumah sakit ini. Dia kemudian menggapai sebuah tuas. Tiba-tiba... “Tschhh" Sial, listriknya mati. Tiba-tiba aku mendegar sebuah geraman dari luar, dan sepertinya menuju kemari. Aku segera melihat dua locker dan memasuki salah satunya. “BRAK! BRAK!! BRAK!!!” Pria gemuk itu muncul lagi, dan mendobrak pintu masuk. "BRAAAKK!!!" Akhirnya dia telah masuk. Kini dia sedang membuka sebuah locker di sebelahku, dan menutupnya dengan keras. Aku menunggu dengan cemas agar dia cepat pergi. Dia melihat ke ke sekeliling dan berbicara dengan suara berat, “Kau tadi disini kan, Bajingan kecil?” Kemudian dia belok ke kanan dan pergi. Aku lega, segera saja aku keluar dari locker, menuju basement dan menyalakan listriknya kembali. Dengan cepat aku kembali ke Control Room. Dan tiba-tiba, ada sebuah tangan yang menahan tubuhku. Kemudian satu tangan tersebut menyuntikkan sebuah cairan ke dalam tubuhku. Kepalaku berbalik dan aku melihat pendeta itu lagi. “Maaf anakku, ini bukan waktu yang tepat untukmu pergi. Setidaknya belum waktunya. Ada banyak hal yang belum kau lihat. Lihatlah rekaman ini, kami ingin menunjukannya padamu” Kepalaku berbalik melihat layar, dan di layar diputar sebuah rekaman yang sepertinya menunjukan pasukan bersenjata yang diserang oleh sesuatu yang tak terlihat. Mereka sepertinya dihajar dan dibantai di udara tapi pelakunya tidak kasat mata”. "Apa ini sebenarnya?!”, aku meneriakinya, “Apa maksud rekaman ini?!”. Video itu berakhir sebelum pandanganku menjadi gelap total... -BERSAMBUNG-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar