Ini Adalah blog yang menyalurkan cerita yang kalian buat laludi publikasikan melalui blog ini
Jumat, 01 April 2016
The Mental House Part 7
The Mental House Part 6
The Mental House Part 5
The Mental House Part 4
The Mental House Part 3
The Mental House Part 2
Original Story by : Arya Sena
Retold by : David (Dengan beberapa perbaikan)
Repost by : Rivai Nur Hidayat (CreepyPastania)
Source : CPI
Angin lebat berhembus kuat menghasilkan hawa dingin yang menusuk tulang, pohon-pohon mulai bergerak mengikuti arah angin dan petir mulai mengelegar dari segala arah. Pertanda bahwa hujan akan segera datang.
Aku segera menuju ke dalam. Saat aku berjalan menuju pintu depan, aku melihat beberapa mobil ambulans di parkir di sebelah rumah sakit. Mobil-mobil ini sepertinya baru dipakai, karena aku bisa merasakan hawa panas keluar dari mesin mobil. Aku berpikir, apa mereka baru saja mengantar pasien baru? Atau... Ah, sudahlah. Aku harus segera masuk kedalam.
Kemudian secara perlahan, aku melangkah menuju pintu depan dan memegang gagang pintu.
Pintunya terkunci, aku harus mencari jalan lain.
Aku melihat ke sekelilingku, dan saat aku menaikkan kepalaku ke atas, aku melihat sebuah jendela yang terbuka lebar dan aku memutuskan untuk memanjat ke atas.
“Hap!”, aku berhasil masuk. Tapi tiba-tiba...
“JGLEG”
Lampunya mati, untung saja aku membawa kamera nightvision-ku untuk berjaga-jaga jika ada situasi seperti ini. Aku melihat sekeliling, dan melihat ruangan ini cukup berantakan. Akhirnya aku melihat sebuah pintu. Ketika membuka pintu itu, aku menoleh ke kiri dan ke kanan, situasi aman.
Aku berjalan menyusuri lorong-lorong rumah sakit ini. Aku melihat pintu yang sedikit terbuka di arah kanan.
“Brak!”
Pintunya tertutup sendiri saat aku mencoba membukanya. “Terkunci lagi? Aneh...”
Aku menengok ke ruangan sebelah kiriku, sepertinya sebuah ruangan obat. Aku melihat ada sebuah lubang ventilasi udara dan setetes demi setetes darah muncul dari atap.
Aku segera memanjat memasuki lubang ventilasi. Kemudian aku merangkak perlahan menuju lubang keluar.
Di jalan menuju ke sana, aku melihat lewat jendela ventilasi. Terlihat seseorang yang sepertinya mendobrak paksa sebuah pintu dan keluar. Mungkinkah dia salah satu pasien di sini?
Setelah berhasil keluar dari lubang ventilasi, aku berjalan menuju sebuah pintu di kananku. Aku melihat ada remang-remang cahaya.
Ketika aku membukanya, tiba-tiba ada sebuah mayat jatuh dari atas dan bergantungan tepat di hadapanku! Dan seketika lampunya mati.
Ruangan ini sepertinya sangat gelap, aku mengeluarkan kamera nightvision-ku untuk melihat sekeliling. Ruangan ini sungguh mengerikan, terdapat kepala-kepala berjejer rapi di lemari sebelah kiri dan kananku. Dan ada 1 mayat lagi yang bergelantungan di sekitar ruangan ini.
Kemudian, aku melihat seorang pria yang badannya telah tertusuk sebuah palang besi, dan dibawahnya ada tumpukan mayat-mayat yang sudah mati. Aku mendekatinya dengan perlahan, tiba-tiba dia bergerak.
“Hah? Apa yang kau lakukan di sini? Kau tidak bisa melawan mereka. Uhuk, para pasien itu namanya adalah para variants. Kau harus lari! Kau bisa membuka pintu utama di Control Room. Uhuk...”
Kemudian dia berhenti bicara, dan aku rasa dia benar-benar mati kali ini. Sepertinya aku harus membuka pintu utama lewat Control Room. Aku melihat sebuah pintu keluar dan berjalan menuju sebuah celah kecil antara dua lemari. Aku berjalan dan tiba-tiba...
“Bajingan Kecil”
Aku melihat sesosok pria gemuk dan besar, mengangkat badanku ke atas dan menghempaskanku keluar jendela.
“PRAAAANG!!”
Aku menabrak kaca jendela tersebut hingga pecah, dan aku pun terjatuh.
Saat aku berusaha membuka mataku, samar-samar aku melihat seorang pendeta yang membisikkan sesuatu di telingaku.
“Ah, anakku...”
“Sesaat lagi, kau akan melihat sebuah revolusi besar. Jaga hidupmu baik-baik”.
Saat aku siuman, pendeta tersebut sudah menghilang...
-BERSAMBUNG-
The Mental House Part 1
Original Story by : Arya Sena
Retold by : David (Dengan beberapa perbaikan)
Repost by : Rivai Nur Hidayat (CreepyPastania)
Source : CPI
CLING! Aku mendapati sebuah e-mail di kotak masukku, aku membaca judulnya, "Cepat Baca Ini!". Aku pun segera mengklik e-mail itu dan melihat isinya.
Isinya berbunyi, "Aku harus mengetik ini dengan cepat mereka mungkin sedang memonitor jaringan internet disini. Oke, jadi begini, aku adalah seorang Programmer software yang sudah dikontrak di sebuah rumah sakit jiwa ini sejak dua bulan yang lalu. Dan semenjak itu, aku telah melihat beberapa hal yang buruk dan mengerikan terjadi di rumah sakit ini. Mereka sepertinya sedang menjalankan beberapa eksperimen yang ilegal dan menjijikan di sini. Dann kepala rumah sakit ini, Dr. Dean Craig bersama temannya, Dr. Richard Trager, sepertinya sudah membuat uang banyak dari rumah sakit ini. Dan aku yakin mereka adalah dalang dari percobaan ini. Kau harus segera kesini Miles, aku mempercayaimu sebagai seorang jurnalis. Para pasien disini sedang disakiti dan aku tak percaya sebagian hal yang aku lihat. Semua itu harus diberitahukan pada publik".
Aku langsung tahu rumah sakit mana yang dibicarakannya. Rumah sakit ini terletak jauh di mulut gunung, namanya adalah "Mount Mental Hospital".
Rumah sakit ini emang sudah dari dulu diduga melakukan percobaan ilegal kepada pasien-pasien disana, tetapi tidak ada bukti yang cukup kuat untuk menyangkutkannya dengan mereka.
"Hmm... Jika e-mail yang dikatakan tersebut benar, maka aku harus menyelidikinya", kataku sambil merenung.
Keesokan paginya, aku berpamitan kepada istriku dan segera menuju mobil. Perjalanan menuju Mount Mental Hospital selama sekitar 16 jam lebih. Terkadang aku mampir menuju Rest Area terdekat untuk makan siang dan istirahat, kemudian melanjutkan perjalananku.
"Hoaamm", aku cukup lelah, perjalanan selama 16 jam lebih benar-benar menguras tenagaku. Aku pun memutuskan menyalakan radio.
"Siaran hari ini, cuaca menuju jalan gunung dipastikan akan turun hujan. Diharapkan untuk tidak pergi keluar karena akan terjadi hujan lebat dan petir".
Setelah beberapa lama, akhirnya aku melihatnya Mount Mental Hospital.
Sungguh sebuah rumah sakit yang besar dan menyimpan aura kelam didalamnya. Pintu Gerbang terbuka, tapi tidak ada seorangpun.
Hmm, aku berasumsi pasti seseorang melihat melalui CCTV di pos penjaga itu dan membiarkanku masuk. Aku memeriksa semua perlengkapan di mobilku. Untuk merekam semua kejadian aku membawa handycam-ku lengkap dengan nightvision.
Aku melangkah keluar dari mobilku, dan secara tiba-tiba...
"KLAANGG!"
"BLAM!"
Gerbangnya menutup sendiri. Yahh... Sepertinya aku harus jalan dari sini, menghadapi horor yang akan menantiku di dalam.
-BERSAMBUNG-
