Jumat, 01 April 2016

The Mental House Part 7

Original Story by : Arya Sena Retold by : David (Dengan beberapa perbaikan) Source : CPI Repost by : Rivai Nur Hidayat “Halo kawan”. Orang itu memukulku dan menarik badanku ke sebuah kursi roda, “Hahaha, aku lihat kau sudah melewati banyak hal. Maka dari itu, izinkanlah aku mengajakmu jalan-jalan”. Setelah itu, dia mengikat kedua tangan dan kakiku pada kursi roda tersebut. Aku melihat di Nametag nya, dia adalah Dr. Richard Trager, seorang ilmuan jenius yang karyanya sempat menjadi fenomena global. Namun sayangnya, dia terkena sebuah tuduhan dan menghilang. Tuduhannya karena sebuah percobaan illegal pada beberapa orang dan binatang. “Hei kawan, kenapa wajahmu begitu pucat? Kau pasti lelah dan membutuhkan pengobatan. Ayo, kita menuju ruangan yang sudah kusiapkan untukmu”. Dia mendorong kursi roda itu dan membawaku ke sebuah pintu. “Kau mau keluar? Silahkan saja. Aku tidak sedang buru-buru, ayolah lari dengan bebas, laporkanlah semua orang tentang rumah sakit ini. Ayolah, bagaimana? Tidak? Oh baiklah”. Aku diam saja, dan kemudian dia kembali mendorong. “Pintu itu pasti pintu keluar”, pikirku dalam hati. Kemudian dia membawaku ke sebuah lift menuju lantai atas. Pada saat dia membawaku dalam perjalanan, aku melihat beberapa pasien sedang diikat ke sebuah ranjang atau sekedar ditempatkan di pintu jeruji. “Hei!! Keluarkan kami dari sini!!!”, Teriak salah seorang pasien. Ketika aku melewati salah seorang pasien, dia berbisik pada telingaku. “Kau akan mati teman”. Trager mendorong sebuah pintu dan membukanya, di dalam terlihat bahwa ini adalah ruang bedah lengkap dengan peralatan bedahnya. “Oke, kita sudah sampai. Kita akan memulai pengobatanmu dalam beberapa saat. Aku hanya perlu menyuci tanganku sebentar”. Kemudian, dia melihat handycam yang kubawa, “Oh, hei. Sebuah handycam. Aku akan membuat film tentang ini”. Dia mengambil handycamku dan menaruhnya di wastafel didepanku. “Hei, begini saja kawan, aku akan memberikanmu sebuah perawatan khusus. Bagaimana jika aku membelah perutmu dan mengambil organ bagian dalammu?”, Ucap Trager. Kemudian dia mengambil sebuah parang besar dan menaruhnya di leherku. “Kau tahu, saksi mata sepertimu pasti sudah mati sekarang. Paling tidak terbunuh oleh para pasien atau sekedar tersesat. Tapi kau cukup tangguh juga, jadi aku akan memberimu sebuah hadiah”. Kemudian, dia melepaskan parang itu. “Kau tahu pendeta itu kan? Dia adalah orang yang sangat kucari, namanya Bapak Martin. Aku khawatir jika kau terlalu lama menghabiskan waktu dengannya. Dia akan mempengaruhimu...” . Trager mengambil sebuah benda yang terlihat seperti gunting yang besar. “Nah,kawan aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi”. Kemudian dia menamparku. Dan seketika, dia memposisikan gunting besar itu pada jari tanganku. Dia memotong jari tengah dan kelingkingku. "AAAAAARRGH!!", Aku berteriak kesakitan. “Bagaimana kawan?”, kemudian dia menamparku lagi dengan sangat keras. Dia kembali memposisikan guntingnya ke tangan di sebelahku, dan memotong dua jariku lagi. Dan sekali lagi, aku berteriak kesakitan, "AAAARGH!!". Tiba-tiba, aku memuntahkan semua isi perutku ditambah dengan darah. Darahku mengucur ke lantai, dan menggenangi kecoa-kecoa yang ada dilantai. Sungguh sebuah tragedi. “Baiklah kawan, nanti aku akan membersihkan muntah itu dari lantai. Sementara itu, aku akan menjual organmu ini, pasti laku mahal. Hahahaha!”. Kemudian dia membawa peralatannya, dan pergi dari ruangan ini. Setelah yakin dia sudah pergi, aku segera memberontak dari kursi sialan ini. Dan beberapa lama kemudian, akhirnya terlepas juga ikatanku. Aku berjalan secara linglung, mencoba menggapai handycamku dengan jari telunjuk dan ibu jariku. “Tunggu saja, aku pasti akan membalasmu, Trager..!”. Ucapku dalam hati. Aku mencoba membuka pintu secara prelahan, dan melangkah keluar. Kulihat ada seseorang yang tidur dan terikat erat di sebuah ranjang. Dia menoleh ke arahku dan mulai berbicara, “Kau baru saja di operasi dengan dia kan?”. “Trager, aku dulu sepertinya. Aku bukan seorang pasien, melainkan seorang dokter". Dia mulai bercerita, " Mereka melakukan sebuah eksperimen, eksperimen yang berjalan sangat-sangat buruk. Pada hari itu, semua berjalan begitu saja, tepat didepan mataku. Dan tidak akan ada seorangpun yang bisa mengendalikannya.. Tidak ada.. Tidak ada...” Tiba-tiba, Trager masuk dari pintu depan. Dan tanpa pikir panjang, aku segera merangkak ke bawah tempat tidur pria tadi. Dua kaki Trager sekarang berjarak hanya beberapa sentimeter dari wajahku. ”Ahh, halo Adam. Sepertinya kondisi organ dalammu semakin membaik. Kelihatannya aku akan membelah tubuhmu dan mengambil organ ginjalmu untuk diberikan pada sebuah pelanggan spesial”. Kemudian dia teringat sesuatu, “Tunggu, ohh.. Aku lupa membawa peralatan khususku. Aku akan segera kembali”. Beberapa lama kemudian, Trager meninggalkan ruangan ini. Aku segera beranjak keluar dan berjalan perlahan menuju pintu depan. Aku menoleh ke kiri dan ke kanan, situasi sepertinya sudah aman. Aku segera berjalan menyusuri rumah sakit ini, dan melihat sebuah lift yang dipakai tadi untuk naik. Tapi sayangnya, lift ini butuh kunci. Pasti kunci itu ada di sekitar sini. Aku menuju sebuah pintu yang terbuka sedikit. Aku melihat melalui lubang pintu itu, dan melihat Trager sedang berbicara pada 2 orang pria. “Hei, jika kau butuh lift di ruangan sebelah sana, kau bisa mengambilnya di ruang kunci milikku. Ruang kunci itu terletak di ujung sebelah sana, bersebelahan dengan apotek, dan kunci itu bewarna emas dengan tulisan LIFT”. “Baiklah Trager”, Kemudian mereka berdua langsung pergi pada urusan masing-masing. Aku melangkah perlahan, memastikan tidak menangkap perhatian siapapun. Di ruangan sebelahku, Trager sedang mengoperasi pasien lain. Aku terus berjalan hingga bertemu dengan sebuah apotek, pasti ruangan kunci itu sudah dekat. Aku melihat samar-samar ada sebuah pintu berdebu. Aku membukanya, dan melihat sebuah lemari dengan kunci-kunci berjejer rapi di dalamnya. Namun kunci yang mana untuk lift tadi? Aku melihat dengan teliti kunci-kunci itu hingga melihat sebuah kunci emas bertuliskan LIFT. Ini dia, aku segera melangkah keluar dari pintu itu. Dan tiba-tiba, Trager keluar dari pintu apotek di sebelahku. Dia melihatku. “Hah? Bagaimana kau bisa lepas?”, dia segera mengeluarkan gunting besarnya dan mulai mengejarku. Aku dengan cepat mengambil langkah seribu dan berlari tunggang-langgang, meninggalkan ruangan tadi, sementara Trager masih ada dibelakangku. Aku menuju lift ruangan tadi dan menutup pintu. Di sebelahku, ada sebuah benda besar dan dengan sekuat tenaga aku mendorong benda itu hingga menutupi pintu ini dan memblokir jalan Trager. “Hei! Tunggu saja hingga aku mendapatkanmu!!”, teriak Trager. Aku segera menuju lift dan memasukan kunci tadi, dan akhirnya lift itu membawaku ke lantai bawah. Setelah berhasil keluar dari lantai atas, tiba-tiba saat aku berjalan menuju pintu lain, Trager datang melalui pintu tangga di sebelahnya dan membuka pintu jerujinya. Dia mengarahkan gunting besar itu menuju leherku, tapi aku dapat menangkap pergelangan tangannya dan mencegahnya mencapai leherku. Aku mempertahankan posisiku cukup lama hingga Trager mulai lelah dan aku berhasil memutar balikkan gunting itu dan mengarahkannya tepat pada jantung Trager. "AAAKH!!" Nafas Trager hampir berhenti, dan darah besar mengucur keluar dari dadanya. Pada saat dia berada pada ujung lift, aku menendang badannya sekuat tenaga, hingga dia pun terjatuh menuju dasar lantai. “WAAAAAA!” Trager telah terjatuh, dan aku pun dapat keluar dari rumah sakit ini. "Selamat tinggal, Trager". -END-

The Mental House Part 6

Original Story by : Arya Sena Retold by : David (Dengan beberapa perbaikan) Source : CPI Repost by : Rivai Nur Hidayat "Hueeek!", bau busuk yang dikeluarkan dari sela-sela selokan ini membuatku serasa ingin muntah, tetapi apa yang bisa kuperbuat, aku harus segera keluar dari tempat ini. Aku terus berjalan menyusuri selokan ini, ada beberapa jalan yang buntu dan tidak bisa dilewati, hingga aku menemukan sebuah celah kecil di tembok dan melewatinya. Kulihat ada sebuah selokan kecil lagi, tapi kali ini air yang ada di dalamnya belum terkuras. Jadi aku harus menguras airnya lewat tombol utama. Tetapi, untuk melakukannya aku harus memutar dua tuas melewati dua jalan berbeda, setelah itu barulah memutar tombol utama. Aku berjalan kedepan dan melihat tiga kotak yang disusun dengan rapi. Setelah beberapa langkah, tiba-tiba... BRUK! "Argghhhhhh!!", pria gemuk itu muncul lagi, dan dengan sigap aku segera menunduk. Aku mengintipnya lewat celah yang ada di kotak, dia berjalan melewati bagian yang di sebelah kanan, jadi otomatis di sebelah kiri aman. Aku segera berlari menuju jalan di sebelah kiri, melompati palang pembatas. Kemudian aku mengikuti jalan hingga menuju sebuah pintu. Aku membuka pintu itu dan melihat tuas pertama, dan aku pun memutarnya SSSSSHHHH... Suara uap menandakan bahwa tekanan untuk menguras air di selokan tadi mulai bekerja. Aku segera berlari menuju jalan kedua. Setelah melewati palang pembatas tadi, pria itu juga sudah melewati palang pembatas disana. Aku segera menunduk setelah melihat sebuah kotak besar, dan beberapa lama kemudian, dia sudah berjalan ke jalan yang kulewati tadi. Setelah dia cukup jauh ke dalam, aku segera berlari melewati jalan kedua dan memutar tuas yang kedua, kemudian kembali ke jalan utama. Dan akhirnya, aku pun menekan tombol utama. Setelah air di selokan itu terkuras, aku turun ke bawah. Aku turun di bagian bawah dari selokan tadi, dan di bawah sangat gelap. Aku mengangkat handycam milikku untuk bernavigasi di kegelapan. Aku terus berjalan dan menemui tangga lagi. Aku beralan ke atas dan muncul di sebuah jalan, lalu aku berjalan terus dan terus hingga melihat sebuah jalan buntu. Aku melihat di sebelah kiriku, ada sebuah pintu. Aku membukanya dan sepertinya ada tangga lagi. Aku turun dari tangga itu dan melihat sebuah jalan dengan darah mengalir ke sebelah kanan. Aku tidak tahu darimana darah itu berasal, kuikuti saja jalan darah ini. Setelah beberapa langkah... BRUK! Ada sebuah tubuh jatuh dari saluran atas. Aku terkejut, siapa yang membuangnya? Aku terus berjalan, disaat aku berjalan aku melihat di sebelah kanan dan kiriku, terdapat sebuah daging yang berserakan dimana-mana. Jalan di depanku sudah mentok, kulihat di bawah, ada sebuah lubang. Jadi aku menunduk dan merangkak melewati lubang tersebut dan mencapai sebuah bagian lain. Bagian ini sepertinya bagian saluran pembuangan yang besar, gelap dan dingin. Aku berjalan melewati saluran ini, dengan air yang setinggi lututku membuatku susah berjalan. Aku melihat sekeliling dengan handycamku, dan kulihat sebuah tangga ke atas. Setelah sampai dan memanjat ke atas, kulihat dari sini, bagian lain dari rumah sakit jiwa ini. Aku berjalan dan melihat sebuah pintu transparan, lalu aku melihat seseorang sedang terikat di sebuah kursi. Aku masuk ke dalam dan tiba-tiba orang itu berteriak. "Lari!!! Mereka mengejarmu!!". Kulihat di sebelahku, ada sebuah pintu besar seperti gerbang dan dua orang pasien sedang berusaha membuka pintu itu. Di depanku ada sebuah benda besar menghalangi pintu di sebelahnya. Dengan cepat aku mendorong benda besar itu. Setelah selesai aku segera masuk ke dalam dan mendorong benda besar di sebelahku. Kemudian, aku membuka sebuah pintu lagi dan berlari dengan cepat ke depan. Aku melihat mereka sudah mendobrak pintu di belakangku dan mengejarku. Aku berjalan lurus ke depan, dan dengan reflek aku mendobrak sebuah pintu di sebelah kananku dan menutupnya dengan cepat. Ini adalah sebuah ruang bedah, aku lihat ada sebuah ruang ventilasi. Aku memanjatnya dan merangkak dengan cepat. Aku keluar dan di belakangku, mereka sudah mendobrak pintu lainnya. "Kau tidak bisa bersembunyi! Kematian akan mendatangimu!!" Aku berlari dengan cepat, aku berbelok ke kiri. Aku sempat menegok ke belakang, dan aku melihat seorang pasien baru saja mendobrak pintu lagi dengan cepat. Di depanku, ada sebuah pintu. Aku memegang gagangnya dan mencoba membukanya. Namun... Terkunci, sial! Aku harus mencari jalan lain. Kulihat ke atas, ada celah kecil di pintu. Aku melompat dan segera memasukinya, kemudian aku kembali berlari. Ada sebuah lubang besar, dan aku melompat lagi untuk memasuki lubang tersebut, kemudian aku kembali berdiri. Adrenalinku telah memenuhi seluruh tubuhku, hingga aku melihat sebuah pintu di kananku. BRAK! Aku mendobraknya dan pintu itu terbuka. Ada sebuah laundry lift (sejenis lift untuk mengantar cucian), dan aku menekan tombolnya. Setelah lift itu datang, aku mengangkat pintu bajanya dan segera masuk. Para pasien yang mengejarku sudah datang terlambat. Fiuhh.. Mereka sudah tak terlihat lagi. Lift itu mengantarku ke atas. Namun, tak lama kemudian, lift berhenti. Pintu baja lift terbuka. "Halo, kawan" Tiba-tiba, ada seorang pria yang berdiri di depan lift, dia kemudian memukulku dan menjatuhkanku ke lantai. "Aku sudah menantikan kedatanganmu, kawanku.." Aku mengenal pria tersebut, "Trager!". -BERSAMBUNG-

The Mental House Part 5

Original Story by : Arya Sena Retold by : David (Dengan beberapa perbaikan) Source : CPI Repost by : Rivai Nur Hidayat "Kenapa mereka semua sudah mati?", kulihat mayat mereka tertumpuk layaknya timbunan sampah, dan penjara ini tiba-tiba berubah menjadi agak gelap, hanya lampu tunggal yang ada di atasku sekarang yang menjadi penerangan untuk melihat mayat-mayat itu. Kuangkat handycam nightvision milikku untuk melihat ke sekeliling. Bagian dalam penjara ini sangat gelap, tiba-tiba terdengar sebuah suara yang besar dan berat. "Argggh", kulihat ternyata pria gendut dan besar itu turun dan memeriksa seluruh bagian penjara ini. Aku segera sembunyi di balik pintu dan mengintipnya. Aku akan menunggu jika dia sudah cukup jauh dan aku bisa naik ke atas. Setelah beberapa lama, sepertinya dia sudah cukup jauh. Aku perlahan melangkah keluar dan menaiki tangga ke atas. Setelah melihat ke belakang dan yakin dia tidak mengikutiku, aku segera lari. Melompati segala halangan di depanku, hingga akhirnya aku melihat sebuah pintu jeruji, namun terkunci. Aku lihat ke bawah, ada sebuah lubang. Aku merunduk dan ada seseorang yang mengintipku lewat sebuah ranjang yang bersandar di pintu jeruji itu. Sepertinya dia sedang ketakutan, jadi kutinggalkan saja. Aku terus berlari hingga menemui sebuah blok penjara lain. Aku masuk dan melihat ada seseorang berjalan ke arahku. Dia memakai sebuah jaket pengikat bak seorang pasien, dan seluruh bagian kepalanya (namun tidak termasuk hidungnya) diikat erat dengan sebuah lakban. Dia hanya diam mematung depanku dan menatapku dengan dingin, meskipun matanya tertutup lakban namun aku bisa merasakannya. Aku segera menuju ke atas, kemudian aku melihat sebuah ranjang bertimbun dan aku pun memanjatnya ke atas. Aku berjalan perlahan dan melihat ke sekeliling, semua pasien disini memberontak ingin dikeluarkan. Aku terus berjalan hingga salah satu pasien menyerangku dan ingin mencekikku. "Ahhh!!", aku mencoba melepaskan cekikannya pada leherku, dan setelah lepas aku mendorong badannya pada pagar pembatas dan jatuh ke bawah. BRUK.. Seketika itu juga, dia mati. Aku berjalan terus dan melihat sebuah pinggiran kecil. Aku bergeser secara perlahan dan melompat pada lantai semen di depanku. Kemudian aku segera berdiri. Aku berjalan lewat tangga dan menuju ke atasku. Dan aku melihat sebuah pinggiran kecil lagi, tetapi di belakangnya ada sebuah sel yang sepertinya kosong. Aku segera bergeser, dan tiba-tiba ada sebuah tangan mengikat leherku. Aku berjuang melepaskan ikatan itu, tiba-tiba saja ikatan tersebut terlepas dan aku berbalik melihat sel tersebut. Seorang pasien mencoba memukulku, aku berhasil menghindari pukulan itu dan segera mencapai ujung. Aku berlari secepat mungkin hingga mencapai dua jalan. Ada satu jalan dengan darah, dan satu lagi tidak ada. Yahh, mungkin aku harus mengikuti yang berisi jejak darah. Aku mengikuti jejak darah itu ke bawah dan melihat ada tulisan bernoda darah di dinding, yang bertuliskan, "Walrider". "Walrider? Apa maksudnya?", renungku. Aku mengikuti jejak darah tersebut dan berakhir di sebuah lubang, dan sepertinya tidak ada jalan lain. Aku segera melompat masuk dan.. "AAAAAAAAA...!!!" Aku terjatuh, dan segera bangkit. Sepertinya ini adalah sebuah selokan. Aku tidak bisa kembali ke jalan tadi, jadi aku harus tetap berjalan. -BERSAMBUNG-

The Mental House Part 4

Original Story by : Arya Sena Retold by : David (Dengan beberapa perbaikan) Source : CPI Repost by : Rivai Nur Hidayat Aku terbangun di tempat yang sepertinya adalah sebuah kamar, tapi bagaimana aku bisa berada disini? Hmm, aku berasumsi pasti pendeta itu yang membawaku kesini, dan disebelahku ada handycam-ku. Aku keluar dari kamar itu, dan melihat ke sekeliling. Aku baru sadar bahwa, ini adalah sebuah penjara. Tapi kenapa ada sebuah penjara di rumah sakit jiwa? Benar-benar rumah sakit yang aneh. Aku melihat seseorang, sepertinya pasien atau tahanan. Dia disekap di sel jeruji di depanku. Dia berteriak. "Hei! Menjauhlah dariku dasar bajingan!! Aku tidak mau disini! Menjauhlah dariku!!", setelah itu, dia meringkuk kembali ke selnya. Aku turun ke bawah penjara tersebut dan melihat berbagai macam pasien atau tahanan. Untuk apa mereka di sini? Dan kondisi mereka semua sangat memprihatinkan. Ada yang yang kulit kepalanya sudah dijahit dan dibelah, ada yang seluruh kulitnya diganti dengan kulit hewan dan ada yang hanya mengalami shock berat seperti habis melihat hantu. Aku berjalan keliling untuk mencari jalan keluar, dan aku lihat di salah satu sel tersebut. Ada sebuah celah kecil yang bisa kulewati. Setelah masuk, aku melihat ada sebuah kotak yang disusun dan ada sebuah pipa yang bisa kupanjat. Setelah memanjat, kulihat ruangan ini sangat gelap. Jadi kuangkat handycam-ku dan mengaktifkan opsi nightvision. "GLEK", aku terkejut. Di depanku, ada dua pasien lain. Sepertinya ini bagian lain dari penjara tadi. Aku berjalan lurus dan melihat sebuah tulisan di dinding bercat darah yang bertuliskan, "IKUTI". Aku mengikuti jejak darah tersebut hingga melewati sebuah pintu. Pintu ini menggunakan kunci mekanis yang harus dibuka melalui komputer. Komputer itu pasti ada di sekitar sini. Aku berjalan dengan cepat dan melihat sebuah pinggiran kecil. Aku bergeser dengan perlahan dan sampai di sisi lain, aku berjalan menuju jalan tersebut dan mendengar. "Diam Kau!!" Sepertinya telah terjadi perkelahian, aku menengok ke sebelahku, dan melihat dua orang napi sedang berkelahi. Salah satu dari mereka menang dan membunuh yang satunya. Aku berjalan perlahan tanpa terlihat dan berhasil melewati pasien itu. Aku berjalan dan berjalan terus, kemudian aku melihat ruang komputer untuk membuka kunci mekanisnya. Kutekan tombolnya, dan, "Klik", sepertinya pintu tadi sudah terbuka. Aku kembali ke jalan tadi dan membuka pintunya. Kulihat di sebelah kananku, ada tulisan ikuti jejak darahnya lagi, dan kuikuti saja jejak darah tersebut. Aku berjalan hingga mencapai sebuah jeruji. Jeruji ini terkunci. Kulirik di sebelahku, ada sebuah jendela. Aku langsung melompat dan berpeganggan dengan pijakan jendela tersebut. Aku bergeser terus ke kiri dan melompat masuk melewati jendela lainnya. Aku mengikuti jejak tersebut, dan melewati pintu di depanku. Aku mengikuti jejak darahnya hingga didepanku, ada seorang pasien membawa tongkat. Aku berbalik dan ada satu pasien lagi yang membawa tongkat pula. Aku terkepung. Kulihat di sebelah, ada jendela terbuka lagi. Aku lompat dan bergeser hingga ke ujung jendela lain. Aku berjalan mengikuti jejak tersebut hingga kulihat ada pintu tembus pandang atau kaca yang hanya bisa dibuka melalui komputer. Lagi-lagi aku harus mencari ruang komputer untuk membukanya. Setelah menemukan ruang komputer dan menekan tombolnya, aku melihat di depanku. Di balik kaca, pria gendut dan besar itu muncul lagi. Aku segera lari lewat pintu tadi dan berjalan lurus. Hingga ada semburan api di sebelahku, dan melemparku ke bawah. "AAAAAAAAAA...!!!" BRUK... Aku kembali ke penjara sebelumnya dan mendarat di tumpukan mayat pasien-pasien yang kulihat tadi. -BERSAMBUNG-

The Mental House Part 3

Original Story by : Arya Sena Retold by : David (Dengan beberapa perbaikan) Source : CPI Repost by : Rivai Nur Hidayat Aku terbangun di sebuah ruangan besar. Aku rasa ini ruangan resepsionis. Anehnya, di meja resepsionis terdapat dua penjaga yang sedang duduk dan kepala mereka tertunduk. Aku datang menghampiri mereka aku menepuk pundak salah satu penjaga. “Pak?”, aku melihat, ternyata mereka sudah meninggal. Lubang matanya kosong sepertinya telah dicongkel oleh seseorang dan darah segar mengalir keluar dari mata penjaga tersebut. Aku berjalan ke depan. Aku menengok di sebelah kiriku, dan aku melihat pintu utama. Itulah jalan keluarku dari sini. Aku tengok ke sebelah kananku, dan aku rasa disitulah Control Room untuk melepaskan kunci pintu utama. Aku berjalan menuju Control Room. Namun tiba-tiba, di depan kulihat seseorang mendobrak paksa sebuah pintu dan masuk. Aku memegang gagang pintu menuju Control Room dan, “Terkunci?” Hmm, sepertinya aku harus mengambil sebuah Keycard untuk membuka pintu ini. Aku kembali menuju ruangan resepsionis. Di meja resepsionis, aku melihat sebuah lembaran catatan. Aku pun membacanya. ...... "Dikarenakan sering terjadi pencurian, untuk para penjaga yang ingin mengambil Keycard untuk Control Room, bisa menemuiku di kantor” TTD. Kepala Penjaga ...... Dan aku melihat peta di catatan itu, sepertinya ini jalan menuju ruang kantor. Aku berjalan sesuai dengan yang ada di peta. Kulihat ada sebuah ruangan lain di sebelah meja resepsionis. Aku segera melangkah ke dalam. Ruangan ini sepertinya ruangan IT, kulihat komputer banyak sekali di ruangan ini. Mereka mungkin menyimpan data semua pasien disini. Aku melihat sebuah pintu di ujung ruangan tersebut, kemudian aku pun membuka pintunya dan kutengok ke kanan, ada seorang pria menduduki kursi roda. Aku mendekati pria itu. Setelah kulihat lebih dekat, kondisinya sangat memprihatinkan. Tubuhnya kurus kering dan kepalanya dibalut perban. “Hah?”, di ujungnya adalah jalan buntu. Kulihat ruangan di sebelahnya terhalang oleh lemari dan barang-barang lain yang berantakan. Pasti ada jalan lain, aku yakin itu. Di sebelah kananku terdapat sebuah kamar pasien. Disitu, kulihat ada tiga orang pasien yang kondisinya tidak kalah mengerikan dari pria tadi. Aku melihat di belakang kamar tersebut, ada jalan memutar menuju kantor. Segera saja aku menuju kesana, dan mendapati bahwa sepertinya kepala keamanan tersebut juga telah mati dan di kantong baju kanannya ada sesuatu, Keycard untuk membuka pintu Control Room. Aku mengambilnya dan meninggalkan ruang kantor. Aku kembali melihat tiga pasien tadi. Aneh pandangan mereka kosong, dan salah satu dari mereka melihat ke arah sebuah TV yang channel-nya kosong (bersemut). Aku segera menutup pintu dan meninggalkan mereka. Aku melihat pria yang ada di kursi roda tadi. Saat perlahan aku melangkah melewatinya, tiba-tiba saja dia menyerangku dan mencekik leherku. “Arghhhhhh!!” Pria tersebut menggeram, aku berjuang keras untuk melepaskan cekikannya. Dan... Akhirnya terlepas juga. Segera saja kuhempaskan badan pria itu ke dinding. Sekarang dia sepertinya hanya akan meringkuk kesakitan di sudut tembok. Aku akhirnya menemukan jalanku kembali ke Control Room, dan menempelkan Keycard-nya pada scanner di pintu tersebut NIIIT Akhirnya terbuka juga pintunya, aku segera duduk di kursi dan mencoba mengutak-ngatik Keyboard-nya untuk membuka kunci pintu utama. “MENGAKSES DATA KEAMANAN UNTUK MEMBUKA PINTU UTAMA” “MEMPROGRAM, 10%. 20%. 30%” Tiba-tiba, kulihat ke Security Monitor, dan kulihat pendeta itu lagi. Kini dia sedang berada di tempatnya yang menurutku adalah basement rumah sakit ini. Dia kemudian menggapai sebuah tuas. Tiba-tiba... “Tschhh" Sial, listriknya mati. Tiba-tiba aku mendegar sebuah geraman dari luar, dan sepertinya menuju kemari. Aku segera melihat dua locker dan memasuki salah satunya. “BRAK! BRAK!! BRAK!!!” Pria gemuk itu muncul lagi, dan mendobrak pintu masuk. "BRAAAKK!!!" Akhirnya dia telah masuk. Kini dia sedang membuka sebuah locker di sebelahku, dan menutupnya dengan keras. Aku menunggu dengan cemas agar dia cepat pergi. Dia melihat ke ke sekeliling dan berbicara dengan suara berat, “Kau tadi disini kan, Bajingan kecil?” Kemudian dia belok ke kanan dan pergi. Aku lega, segera saja aku keluar dari locker, menuju basement dan menyalakan listriknya kembali. Dengan cepat aku kembali ke Control Room. Dan tiba-tiba, ada sebuah tangan yang menahan tubuhku. Kemudian satu tangan tersebut menyuntikkan sebuah cairan ke dalam tubuhku. Kepalaku berbalik dan aku melihat pendeta itu lagi. “Maaf anakku, ini bukan waktu yang tepat untukmu pergi. Setidaknya belum waktunya. Ada banyak hal yang belum kau lihat. Lihatlah rekaman ini, kami ingin menunjukannya padamu” Kepalaku berbalik melihat layar, dan di layar diputar sebuah rekaman yang sepertinya menunjukan pasukan bersenjata yang diserang oleh sesuatu yang tak terlihat. Mereka sepertinya dihajar dan dibantai di udara tapi pelakunya tidak kasat mata”. "Apa ini sebenarnya?!”, aku meneriakinya, “Apa maksud rekaman ini?!”. Video itu berakhir sebelum pandanganku menjadi gelap total... -BERSAMBUNG-

The Mental House Part 2

Original Story by : Arya Sena

Retold by : David (Dengan beberapa perbaikan)

Repost by : Rivai Nur Hidayat (CreepyPastania)

Source : CPI

Angin lebat berhembus kuat menghasilkan hawa dingin yang menusuk tulang, pohon-pohon mulai bergerak mengikuti arah angin dan petir mulai mengelegar dari segala arah. Pertanda bahwa hujan akan segera datang.
Aku segera menuju ke dalam. Saat aku berjalan menuju pintu depan, aku melihat beberapa mobil ambulans di parkir di sebelah rumah sakit. Mobil-mobil ini sepertinya baru dipakai, karena aku bisa merasakan hawa panas keluar dari mesin mobil. Aku berpikir, apa mereka baru saja mengantar pasien baru? Atau... Ah, sudahlah. Aku harus segera masuk kedalam.
Kemudian secara perlahan, aku melangkah menuju pintu depan dan memegang gagang pintu.
Pintunya terkunci, aku harus mencari jalan lain.
Aku melihat ke sekelilingku, dan saat aku menaikkan kepalaku ke atas, aku melihat sebuah jendela yang terbuka lebar dan aku memutuskan untuk memanjat ke atas.
“Hap!”, aku berhasil masuk. Tapi tiba-tiba...
“JGLEG”
Lampunya mati, untung saja aku membawa kamera nightvision-ku untuk berjaga-jaga jika ada situasi seperti ini. Aku melihat sekeliling, dan melihat ruangan ini cukup berantakan. Akhirnya aku melihat sebuah pintu. Ketika membuka pintu itu, aku menoleh ke kiri dan ke kanan, situasi aman.
Aku berjalan menyusuri lorong-lorong rumah sakit ini. Aku melihat pintu yang sedikit terbuka di arah kanan.
“Brak!”
Pintunya tertutup sendiri saat aku mencoba membukanya. “Terkunci lagi? Aneh...”
Aku menengok ke ruangan sebelah kiriku, sepertinya sebuah ruangan obat. Aku melihat ada sebuah lubang ventilasi udara dan setetes demi setetes darah muncul dari atap.
Aku segera memanjat memasuki lubang ventilasi. Kemudian aku merangkak perlahan menuju lubang keluar.
Di jalan menuju ke sana, aku melihat lewat jendela ventilasi. Terlihat seseorang yang sepertinya mendobrak paksa sebuah pintu dan keluar. Mungkinkah dia salah satu pasien di sini?
Setelah berhasil keluar dari lubang ventilasi, aku berjalan menuju sebuah pintu di kananku. Aku melihat ada remang-remang cahaya.
Ketika aku membukanya, tiba-tiba ada sebuah mayat jatuh dari atas dan bergantungan tepat di hadapanku! Dan seketika lampunya mati.
Ruangan ini sepertinya sangat gelap, aku mengeluarkan kamera nightvision-ku untuk melihat sekeliling. Ruangan ini sungguh mengerikan, terdapat kepala-kepala berjejer rapi di lemari sebelah kiri dan kananku. Dan ada 1 mayat lagi yang bergelantungan di sekitar ruangan ini.
Kemudian, aku melihat seorang pria yang badannya telah tertusuk sebuah palang besi, dan dibawahnya ada tumpukan mayat-mayat yang sudah mati. Aku mendekatinya dengan perlahan, tiba-tiba dia bergerak.
“Hah? Apa yang kau lakukan di sini? Kau tidak bisa melawan mereka. Uhuk, para pasien itu namanya adalah para variants. Kau harus lari! Kau bisa membuka pintu utama di Control Room. Uhuk...”
Kemudian dia berhenti bicara, dan aku rasa dia benar-benar mati kali ini. Sepertinya aku harus membuka pintu utama lewat Control Room. Aku melihat sebuah pintu keluar dan berjalan menuju sebuah celah kecil antara dua lemari. Aku berjalan dan tiba-tiba...
“Bajingan Kecil”
Aku melihat sesosok pria gemuk dan besar, mengangkat badanku ke atas dan menghempaskanku keluar jendela.
“PRAAAANG!!”
Aku menabrak kaca jendela tersebut hingga pecah, dan aku pun terjatuh.
Saat aku berusaha membuka mataku, samar-samar aku melihat seorang pendeta yang membisikkan sesuatu di telingaku.
“Ah, anakku...”
“Sesaat lagi, kau akan melihat sebuah revolusi besar. Jaga hidupmu baik-baik”.
Saat aku siuman, pendeta tersebut sudah menghilang...

-BERSAMBUNG-

The Mental House Part 1

Original Story by : Arya Sena

Retold by : David (Dengan beberapa perbaikan)

Repost by : Rivai Nur Hidayat (CreepyPastania)
Source : CPI

CLING! Aku mendapati sebuah e-mail di kotak masukku, aku membaca judulnya, "Cepat Baca Ini!". Aku pun segera mengklik e-mail itu dan melihat isinya.
Isinya berbunyi, "Aku harus mengetik ini dengan cepat mereka mungkin sedang memonitor jaringan internet disini. Oke, jadi begini, aku adalah seorang Programmer software yang sudah dikontrak di sebuah rumah sakit jiwa ini sejak dua bulan yang lalu. Dan semenjak itu, aku telah melihat beberapa hal yang buruk dan mengerikan terjadi di rumah sakit ini. Mereka sepertinya sedang menjalankan beberapa eksperimen yang ilegal dan menjijikan di sini. Dann kepala rumah sakit ini, Dr. Dean Craig bersama temannya, Dr. Richard Trager, sepertinya sudah membuat uang banyak dari rumah sakit ini. Dan aku yakin mereka adalah dalang dari percobaan ini. Kau harus segera kesini Miles, aku mempercayaimu sebagai seorang jurnalis. Para pasien disini sedang disakiti dan aku tak percaya sebagian hal yang aku lihat. Semua itu harus diberitahukan pada publik".
Aku langsung tahu rumah sakit mana yang dibicarakannya. Rumah sakit ini terletak jauh di mulut gunung, namanya adalah "Mount Mental Hospital".
Rumah sakit ini emang sudah dari dulu diduga melakukan percobaan ilegal kepada pasien-pasien disana, tetapi tidak ada bukti yang cukup kuat untuk menyangkutkannya dengan mereka.
"Hmm... Jika e-mail yang dikatakan tersebut benar, maka aku harus menyelidikinya", kataku sambil merenung.
Keesokan paginya, aku berpamitan kepada istriku dan segera menuju mobil. Perjalanan menuju Mount Mental Hospital selama sekitar 16 jam lebih. Terkadang aku mampir menuju Rest Area terdekat untuk makan siang dan istirahat, kemudian melanjutkan perjalananku.
"Hoaamm", aku cukup lelah, perjalanan selama 16 jam lebih benar-benar menguras tenagaku. Aku pun memutuskan menyalakan radio.
"Siaran hari ini, cuaca menuju jalan gunung dipastikan akan turun hujan. Diharapkan untuk tidak pergi keluar karena akan terjadi hujan lebat dan petir".
Setelah beberapa lama, akhirnya aku melihatnya Mount Mental Hospital.
Sungguh sebuah rumah sakit yang besar dan menyimpan aura kelam didalamnya. Pintu Gerbang terbuka, tapi tidak ada seorangpun.
Hmm, aku berasumsi pasti seseorang melihat melalui CCTV di pos penjaga itu dan membiarkanku masuk. Aku memeriksa semua perlengkapan di mobilku. Untuk merekam semua kejadian aku membawa handycam-ku lengkap dengan nightvision.
Aku melangkah keluar dari mobilku, dan secara tiba-tiba...
"KLAANGG!"
"BLAM!"
Gerbangnya menutup sendiri. Yahh... Sepertinya aku harus jalan dari sini, menghadapi horor yang akan menantiku di dalam.

-BERSAMBUNG-

Asal Usul Kata Hompimpa

Udah tau belom arti hompimpa kalo belom nih penjelasannya Hompimpa atau hompimpah adalah sebuah cara untuk menentukan siapa yang menang dan kalah dengan menggunakan telapak tangan yang dilakukan oleh minimal tiga peserta. Secara bersama-sama, peserta mengucapkan kata hom-pim-pa. Ketika mengucapkan suku kata terakhir (pa), masing-masing peserta memperlihatkan salah satu telapak tangan dengan bagian dalam telapak tangan menghadap ke bawah atau ke atas. Dalam budaya Betawi, hompimpa dilakukan dengan lagu berlirik "Hompimpa alaium gambreng. Mpok Ipah pakai baju rombeng". Pemenang adalah peserta yang memperlihatkan telapak tangan yang berbeda dari para peserta lainnya. Ketika peserta lainnya sudah menang, peserta yang kalah ditentukan oleh dua peserta yang tersisa dengan melakukan suten. Kalimat "Hongpimpa Alaium Gambreng" Itu Bermakna "Dari Tuhan Kembali Ke Tuhan, Mari Kita Bermain.." Sekarang permainan ini jarang sekali di sekitar desa saya. Dulu saya waktu SD saya selalu jika ingin bermain kucing-kucingan harus memakai hompimpa ini. Tapi sekarang sudah jarang, malah tidak ada, tidak terlihat, dan tidak terdengar 1 pun. Semoga bermanfaat :). ini dri bahasa sanskerta